Deteksi Dini Kanker Uteri

downloadTelah kita diketahui bahwa pencegahan efektif kanker serviks merupakan tindakan preventif sekunder, yaitu deteksi lesi prakanker melalui tes Pap dan rangkaian tindak lanjut, misalnya pemeriksaan kolposkopi, biopsi. Pengalaman di negara maju menunjukkan bahwa konsep tersebut baru efektif jika cakupan populasi yang diperiksa tes Pap mencapai sebagian besar populasi yang berisiko. Namun, implementasi hal tersebut membutuhkan tidak hanya biaya, melainkan juga sumber daya manusia dan logistik peralatan yang besar. Di Indonesia, cakupan tes Pap diperkirakan kurang dari 5 %. Untuk memenuhinya, diupayakan alternatif tes Pap dengan IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) yang diharapkan mendapatkan cakupan yang lebih luas. Upaya memperluas skrining dengan tes IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat) ini membutuhkan waktu sosialisasi yang tidak singkat meskipun telah dicanangkan oleh Ibu Negara.

TES PAP Tes pap atau yang lebih dikenal dengan pap smear adalah salah satu deteksi dini terhadap kanker serviks yang sering dilakukan. Pap smear banyak ditawarkan oleh klinik laboratorium. Pelaksanaannya mudah dan murah. Pada prinsipnya, pap smear adalah mengambil sel epitel yang ada di leher rahim yang kemudian dilihat kenormalannya. Berikut cara melakukan pap smear. 1. Usapkan spatula Eyre pada ektoserviks (bibir mulut rahim) terlebih dahulu. Lalu, pulas di kaca benda. 2. Usapkan cytobrush pada endoserviks. Lalu,pulas di kaca benda. 3. Rendam kaca benda dalam alkohol 96 %, minimal 30 menit.

PEMERIKSAAN SSBC/LBC (SITOLGI SERVIKS BERBASIS CAIRAN/ LIQUID BASE CYTOLOGY) Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan pap smear di mana hasil pengambilan sel-sel mulut rahim ”dilarutkan” lebih dahulu pada suatu cairan, kemudian di-sentrifugasi/diambil endapannya, baru kemudian dibuat hapusan dan dibaca di bawah mikroskop. Dengan tehnik baru ini, keakuratan hasil pemeriksaan lebih tinggi walaupun biayanya lebih mahal. INSPEKSI VISUAL ASAM ASETAT (IVA) Metode IVA pertama kali ditemukan oleh Sankaranarayanan dkk. Deteksi dengan metode IVA ini sangat cocok diaplikasikan di negara berkembang karena selain mudah, murah, efektif, tidak invasif, juga dapat dilakukan langsung oleh dokter, bidan atau paramedik. Hasilnya pun langsung bisa didapat, dan sensifitas serta spesifitasnya cukup baik. Alat dan bahan yang dibutuhkan pun sangat sederhana, yaitu spekulum vagina, asam asetat 3−5 %, kapas lidi, meja pemeriksaan,arung tangan bersih (lebih baik steril), dan dilakukan pada kondisi ruang yang terang (cukup cahaya). Kriteria pemeriksaan IVA atau Hasil pemeriksaan IVA, dikelompokkan sebagai berikut:

I. Normal

II. Radang/Atipik/Servisitis

III. IVA positif/ditemukan bercak putih

IV. Kanker serviks KOLPOSKOPI Kolposkopi adalah pemeriksaan mulut rahim dengan kamera pembesaran untuk mendeteksi serta melakukan tindakan terapi pada pasien dengan prakanker serviks uteri. Manifestasi Klinis Pada 92% lesi prakanker tidak terdapat gejala, kalau ada hanya berupa rasa kering di vagina.

Gejala: – awal: perdarahan per vaginam (kontak atau di luar masa haid). – lanjut: cairan keluar dari liang vagina berbau tidak sedap, nyeri (panggul, lumbosakral, gluteus), gangguan berkemih, nyeri di kandung kemih dan rektum. Kalau sudah bermetastasis maka akan timbul gejala sesuai dengan organ yang terkena. – residif: edema tungkai unilateral, nyeri siatika dan gejala obstruksi ureter.

Color Doppler Sonography Analysis of Adnexal Masses

Color Doppler Sonography Analysis

of Adnexal Masses

by Heru Priyanto

Introduction

Information gained by sonography is useful in guiding the gynecologic surgeon through decision regarding surgical intervention. Sonography is the diagnostic modality of choice for evaluation of patient with a plevic mass. Sonography usually provides clinically important paramaters for pelvic mass, include :

Confirmation of the presence or absence for a plevic mass

Delineation of the size, internal consistency and contour of the mass.

Establishment of the origin and anatomic relationship of the mass and pelvic

structure

A survey of abnormalities assosiated with malignant disease, such as ascites or

metastatic lesion

In the evaluation of the uterus and adnexa, transvaginal sonography (TVS) has an important role and it is the best used as an adjunct to and standart transabdominal scan (TAS). TAS affords detailed assessment of the morphology of adnexal mass.

Color doppler sonography (CDS) with spectral analysis has added to understanding and characterization of the lession based on of its depiction of vascularity of the mass.

Principles of Color Doppler Sonoghrapy

Diagnosis of ovarian tumor with CDS is based on detection of the low-impedance, high-velocity flow assoiated with tumor neovascularity.Normal arterioles have an inner muscular linning, but in tumor angiogenesis, a paucity of this linning is present and there may be arteriovemous shuting in tumor vessel. Absent of muscular linning, with CDS become show a “high velocity flow” and “low reisitance signal“. Increased diastolic flow relative to systolic flow occurs due to a decrease in resistance to forward flow.

Scanning procedures

Color doppler sonography can be performed using either abdominal or vaginal probes. Any sonographic evaluation of adnexal mass begins with its morphologic analysis. The mass should be caracterized as :

predominantly cystic, complex or solid

assesed internal structure for the presence of : papillary projections, septations (presence and thickness of septa) and echogenicity.

parietal wall thickness

secondary sign of malignancy, such as ascites, pelvic peritoneal implant etc.

Similar to caracterizing masses by their morphology, CDS requires multiple parameters need to be evaluated iclude :

vessel location

relative impedance

velocities

notch in the waveform during diastole : the nocth indicates momentary resistance to forward flow and is usually a sign that a vessel has a muscular coating. This nocth is often absent in malignancies.

The vessel must be localized as peripheral, central or miscellaneous ( ie, within projection, septations )

Analysis of the wave flow is performed using two standart indices.The first is Resistance Index (RI) and the second index is the Pulsatility Index (PI). RI defined as the maximum systolic velocity minus the end-diastolic velocity divided by maximum systolic velocity. PI defined as the maximum systolic minus the end-diastolic velocity divided by the mean velocity. There is debate as to which index is preferred, and several investigators have reported that both are equally accurate.At present, some investigators have assigned the value that is indicated for malignancy a cutoff of PI < 1,0 and RI < 0,4. Kurjaks and co workers used a scoring sistem that incorporate the variable of morphology, type of vaskularity and RI to predict malignancy.

Transvaginal colour and pulsed Doppler was used to visualize the uterine and ovarian arteries and the blood vessels within the ovarian stroma in all patients. The uterine artery was localized laterally to the uterus at the level of the corporocervical junction, and the ovarian artery was found lateral to the upper pole of the ovary, near the infundibulopelvic ligament. The stromal vessels of the ovary were identified as colour signals within the ovarian stroma of both ovaries.

A pulsed Doppler range gate was placed across each vessel, aiming for an angle of insonation close to 0° between the Doppler beam and the vessel. After detection of blood flow and visualization of the waveform of the uterine and ovarian arteries, four blood flow indices were automatically calculated: the pulsatility index (PI); the resistance index (RI); the peak systolic velocity (Vp, units of cm/s); and the end-diastolic velocity (Vd, units of cm/s). At least three consecutive correctly imaged blood flow velocity waveforms were analysed, and mean values of PI, RI, Vp and Vd calculated.

Color Doppler Sonography of Adnexal Masses

The pelvis is the source of benign and malignant ovarian lesions, tubo ovarian complexes and uterine leiomyomata.In general benign pelvic masses exhibit high-resistance waveform pattern. Using a combination of morphology and spectral analysis, investigators have attempted to determine the histopthology of pelvic masses. Table I show parameters of transvaginal color doppler sonography.

Table I : Transvaginal color doppler sonography : Parameters

Probable Histology

Parameters

Benign Malignant

Vessel location

Peripheral Central Other Peripheral Central

Maximum systolic velocity

High Intermediate Low High Low

( > 15cm/s) (b/w 10-15cm/s) (<10cm/s)

Impedance

High Intermediate Low High Low

PI (>1,5) (b/w 1,0-1,5 ) ( <1,0)

RI (>0,6) (b/w 0,4-0,6 ) ( <0,4 )

Waveform shape

+Notch Intermediate -Notch Positive Negative

Vessel “density”

High Intermediate Low Low High

( < 10%) (b/w 5-10%) (>5%)

While interpreting the sonographic finding, it is important to be aware of the patiens clinical history, her age, prior surgery, laboratory status such as CA-125 and other imaging ( CT / MRI ). Table II show the diferential diagnosis of adnexal masses by CDS based on vessel distribution and impedance.

Table II : Typical Transvaginal Color Doppler Sonography finding

in benign and malignant ovarian masses

Type of Masses Vessel Impedance

Distribution Relative Velocity

Corpus luteum Peripheral Low, high

Endometrioma Peripheral Variable

Dermoid cyst Peripheral and central Variable

Ovarian torsion Absent Very high if present

Benign epithelial Peripheral High, low

ovarian tumor

Malignant ovarian tumor Peripheral an central Low, high

———————————————————————————————————-

Ovarian Tumor

The management of ovarian tumors remains a common clinical gynecologic problem. Recently the role of color and spectral Doppler in the diagnosis of ovarian malignancy has been a subject of enormous debate. Many investigators have used color Doppler imaging in addition to B-mode ultrasound morphological characterization to discriminate between benign and malignant ovarian tumors

Multivariate logistic regression has been used in a few recent studies to predict the probability of malignancy in patients with ovarian tumors. They included sonographic variables of transvaginal B-mode and color Doppler imaging,clinical variables such as menopausal status or age and serum CA 125 levels. Doppler parameters always featured as independent predictors of malignancy.

Doppler energy is very useful for the detection of small vessels in the septa, papillary projections,or solid areas. Any color signals were counted and subsequently classified into three groups (no flow, low vascularity and high vascularity). The location of tumor vessels was stated as central (solid areas, septa and papillae) or peripheral. Pulsed Doppler was used to interrogate each color signal detected and a flow velocity waveform was obtained in each case. If it was an artery, then the RI and PI were calculated. Both RIand PI were calculated for each vessel if there was more than one artery within a given tumor. The lowest value was considered for analysis.

Doppler studies of ovarian blood flow are based on: semiquantitative analysis of Doppler flow waves recorded over the ovarian artery at its entry into the ovary and color Doppler mapping of intraovarian vessels.

Evaluate tumor with with Color Doppler showed presence of tumor neovascularisation in 92.59% of malignant tumors in contrast to 42.24% benign tumors.

The site of tumor vascularity did not affect the diagnosis in cystic neoplasm, as the tumor vascularity was encountered almost equally in the wall and septae. But, in solid malignant neoplasms; the central vascularity was encountered in 81.25% cases while peripheral vascularity was present in 18.75% cases. For ovarian malignancy Doppler energy, RI, and a central blood flow location were found to be the best predictive factors.In conclusion, the use of color Doppler energy imaging seems to be a useful secondary test when a mass is suspected to be malignant by B-mode ultrasonography.

Daftar Pustaka

1. Schmidt W, Kurjak A .Color Doppler Sonography in Gynecology and Obstetrics Translated by Terry Telger. Stuttgart, Germany: Georg Thieme Verlag, 2005.

2. Fleischer AC,Entman SS. Sonographic Evaluation of Pelvic Masses with Transabdominal and/or Transvaginal Sonography in Sonography in Obstetrics and Gynecology, Principles and Practice.5th edition.Appleton and Lange,Connecticut, USA,1996,p: 791-813

3. Palmer PES,editor : Panduan Pemeriksaan Diagnostik USG – World Health Organization,EGC,Jakarta,2001.

4. Guerriero S, Ajossa S, Risalvato A et al. Diagnosis of adnexal malignancies by using color Doppler energy imaging as a secondary test in persistent masses. Ultrasound in Obstetrics and Gynecology 11 (4). 1998, 277–282

5. Tailor A. Jurkovic D.; Bourne T.H.; Natucci M.; Collins W.P.; Campbell S. Comparison of Transvaginal Color Doppler Imaging and Color Doppler Energy for Assessment of Intraovarian Blood Flow. Obstetrics and Gynecology, Vol 91, Number 4, April 1998 , pp. 561-567

6. Taori KB, Mitra KR, Ghonge NP, Ghonge SN. Doppler determinants of Ovarian malignancy : Experience with 60 patients. Genitourainary tract imaging. Vol 12,2,2002.p:245 -249

7. Marret H, Ecocard R, Giraudea B et al . Color Doppler energy prediction of malignancy in adnexal masses using logistic regression models. Ultrasound Obstet Gynecol 2002; 20: p.597-604

8. Block B.Color atlas of ultrasound anatomy. Thieme, Braunschweig Germany.2004

Peran TUMOR MARKER pada Diagnosis Kanker

Picture 2Pentanda tumor adalah substansi biologi yang diproduksi oleh sel sel tumor,masuk dalam aliran darah,dan dapat dideteksi jumlah/nilainya dengan pemerikaan. Petanda-petanda tumor, idealnya mempunyai potensi untuk membantu ahli klinik dengan cara memberi sinyal aktivitas penyakit dalam keadaan tidak adanya manifestasi klinik, sehingga dengan demikian memberikan suatu metode skrining untuk penyakit preklinik, memantau status tumor selama pengobatan, dan mendeteksi kekambuhan dini.Karena kemajuan dalam teknologi antibodi monoklonal, banyak petanda tumor sekarang dapat terdeteksi dalam sampel cairan tubuh yang sedikit misalnya serum, urin, atau asitesUntuk dapat dipakai secara klinik maka petanda tumor harus memiliki sensitivitas dan spesifitas tertentu, tetapi yang menjadi masalah pada pemakaian klinis suatu petanda tumor adalah spesifitas. Dalam teori, petanda tumor yang “ideal” harus mempunyai beberapa atribut:

  1. Petanda tumor harus dibuat oleh tumor tersebut dan tidak terdapat pada individu sehat atau pada individu yang mengalami kelainan non neoplastik.
  2. Petanda tumor disekresikan kedalam sirkulasi dalam jumlah banyak sehingga kadar dalam serum meningkat dalam keadaan adanya sejumlah relatif kecil sel-sel yang bersifat kanker.Kadar petanda tumor akan seusuai dengan volume dan luasnya neoplasia sehingga kadar serialnya secara akurat akan mencerminkan perkembangan klinis penyakit dan regresi ke kadar normal akan terkait dengan kesembuhan.

Klasifikasi lain dari petanda tumor berdasarkan :  1.  Produk yang dihasilkan oleh sel tumor itu sendiri (tumor – derived product).      Berupa antigen onkofetal, yang terdiri dari senyawa-senyawa yang dihasilkan oleh sel embrio dan sel tumor. Senyawa ini juga dihasilkan oleh sel normal yang ”undifferentiated” tetapi dalam jumlah yang sangat kecil. Dan kadar senyawa ini akan meningkat secara bermakna pada penderita kanker.      Contoh :      –  Carcinoembryonic Antigen (CEA)      –  Alfa – Fetoprotein (AFP)   2.      Produk yang menyertai proses keganasan (tumor – associated product).Produk ini merupakan senyawa yang dibentuk secara sekunder sebagai akibat dari proses keganasan, dan kadarnya juga akan meningkat secara bermakna pada penderita kanker.Contoh :-  Carbohydrate Antigen 19 – 9 (CA 19 – 9)-  Cancer Antigen 125 (CA 125)-  Ferritin-  B2MicroglobulinNILAI “CUT – OFF values “            Penentuan batas (Cut – Off) pada penggunaan petanda tumor, baik untuk diagnosis ujisaring, prognosis maupun pemantauan terapi sangat mempengaruhi interpretasi hasil pemeriksaan. Karena penentuan cut-off akan menentukan sensitivitas dan spesifisitas diagnosis yang kita kehendaki.Sebagai contoh bila kita menggunakan nilai cut-off 35 U/ml pada pemeriksaan CA 125 untuk kanker ovarium (35 U/ml = rata-rata wanita normal + 3 SD). Peningkatan kadar di atas 35 U/ml ini akan terlihat pada 82% penderita dengan kanker ovarium, 1% pada wanita normal dan 6% pada penyakit yang bukan keganasan.    Petanda Tumor Onkologi GinekologiSejumlah petanda tumor telah memperoleh pengakuan dalam praktek onkologi ginekologi. Beberapa petanda lain telah teridentifikasi dan berada dalam penyelidikan untuk menentukan kegunaanya. Kebanyakan petanda yang ditetapkan merupakan antigen2 jaringan, tetapi antigen fetus, hormon, dan enzim2 telah menjanjikan dengan baik.  Antigen  Fetus. a. Alfafetoprotein Protein-protein onkofetal diekspresikan selama perkembangan fetus dan oleh berbagai tumor. Alfafetoprotein (AFP) merupakan yang pertama diantara protein-protein ini yang diteliti secara luas. AFP diisolasi pada tahun 1956 dan dikaitkan dengan keganasan pada 1963. AFP merupakan protein serum yang predominan pada fetus dan dibuat dalam kuning telur, hati, dan traktus gastrointestinalis. AFP adalah suatu glikoprotain, mempunyai 30% homolog dengan albumin, dan mempunyai berat molekul yang sama (69.000). Kadar AFP yang beredar sangat rendah pada orang dewasa, kecuali pada kehamilan ketika membanjir dari sirkulasi fetus yang menyebabkan peningkatan yang signifikan. AFP berperan sebagai suatu petanda yang bermanfaat untuk kanker hati, kanker testikular, dan tumor-tumor  sel germinal tertentu pada ovarium. AFP juga meningkat pada penyakit hati jinak dan dalam persentase yang kecil dari kanker paru dan gastrointestinal.   b. Antigen KarsinoembrionikPetanda tumor onkofetal lainnya, yaitu antigen karsinoembrionik (CEA),  pertama kali teridentifikasi pada tahun 1965 pada pasien-pasien penderita adenokarsinoma kolon. Selanjutnya, CEA ditemukan diekspresikan pada usus, hati, dan pankreas fetus. CEA merupakan suatu glikoprotein membran permukaan sel dengan berat molekul 200.000. kadar CEA serum meningkat pada pasien-pasien penderita kanker kolon dan pankreas tetapi dapat juga meningkat pada kelainan gastrointestinal jinak dan pada perokok. Ekspresi CEA jaringan dapat diperlihatkan secara imunohistokimiawi pada banyak keganasan ginekologi  tetapi kadar serum sangat bervariasi. Sebagai konsekuensi dari tidak adanya korelasi antara volume tumor dan kadar serum, CEA tidak terbukti merupakan suatu alat skrining yang bermanfaat. Namun, pada pasien-pasien individual, CEA dapat merupakan suatu petanda yang sensitif. Peningkatan kadar CEA sesudah remisi awal bersifat sangat indikatif untuk terjadinya kekambuhan tumor dan dapat mengakibatkan pelembagaan dini untuk pengobatan sekunder. Namun, untuk kanker2 seperti karsinoma kolon yang tidak mempunyai terapi penyelamatan yang efektif, pengetahuan dini tentang kekambuhannya tidak dapat memperbaiki harapan hidup.  Petanda Tumor HormonalYang termasuk dalam golongan petanda tumor hormonal adalah :

  1. Human Chorionic Gonadotropin
  2. Fragmen Gonadotropin urin
  3. Human Plasental Lactogen
  4. Steroid
  5. Inhibin

Human Chorionic Gonadotropin (hCG)Sinsitiotrofoblas plasenta mensekresikan suatu glikoprotein heterodimer dengan berat molekul 36.700. Glikosilasi peptida tulang belakang berperan untuk menstabilkan molekul tersebut dan memperpanjang masa hidup dalam serum. hCG mempunyai kesamaan struktural dan fungsional dengan LH (luteinizing hormone). Kedua hormon ini mempunyai segmen beta yang berbeda dan sub unit alfa yang identik. Dengan demikian, assay untuk hCG biasanya menggunakan antibodi monoklonal yang spesifik untuk sub unit beta untuk menghindarkan reaktivitas silang dengan LH. Dalam keadaan tidak adanya kehamilan, kadar H CG serum pada wanita2 yang tidak mengalami kanker di bawah kisaran sensitifitas pada kebanyakan assay. Aplikasi hCG yang paling umum pada onkologi ginekologi adalah dalam mendiagnose dan manajemen penyakit trofoblastik kehamilan (GTD). Petanda ini juga meningkat pada lebih kurang 70% kanker testikular non seminomatous dan kadang-kadang pada penyakit gastrointestinal jinak. Sebagai tambahan, produksi ektopik sejumlah kecil hCG oleh kanker yang timbul dari sel-sel yang secara normal tidak memproduksi hormon ini akan dapat terjadi. Setiap peningkatan petanda ini dalam keadaan tidak adanya kehamilan memberi peringatan follow-up untuk menyingkirkan keganasan.  Human placental lactogenSuatu hormon plasenta dengan aktivitas laktogenik dan menyerupai hormon pertumbuhan, human placenta lactogen (hPL), merupakan suatu polipeptida kecil dengan berat molekul 22.279. HPL mempunyai 94% rangkaian homolog dengan hormon pertumbuhan dan 67% homolog dengan prolaktin. Hormon ini diproduksi oleh sel-sel sinsitiotrofoblas dan sel-sel trofoblas intermediate. Kegunaan utamanya pada onkologi ginekologi yaitu untuk memantau GTD, terutama varian PSTT (placental-site trophoblastic tumor). Sejumlah kecil tumor non trofoblastik mensekresikan HPL ini. SteroidBerbagai estrogen, progestin, dan androgen dapat disekresikan oleh tumor stroma ovarium. Steroid2 adrenal dapat juga dibebaskan jika diferensiasi tumor mensimulasi kortek adrenal. Sebagai tambahan, pada beberapa kasus hiperplasia stroma ovarium dapat menyertai tumor-tumor epitelial ovarium, yang mengakibatkan meningkatnya steroidogenesis stromal. Karena kadar signifikan dari kebanyakan hormon steroid terdapat dalam keadaan sehat, perubahan2 yang disebabkan oleh tumor jarang berperan sebagai petanda yang dipercaya.InhibinHormon ini merupakan suatu glikoprotein heterodimer yang diproduksi oleh sel-sel granulosa ovarium. Fungsi fisiologi primer inhibin adalah mensupresi pelepasan FSH oleh pituitari. Hormon ini dimiliki oleh super famili TGF-β dari protein2 yang memodulasi pertumbuhan. Peningkatan kadar inhibin terlihat pada kebanyakan tumor sel granulosa dan kadar serial telah bermanfaat dalam memantau status penyakit. Antigen-antigen jaringanYang termasuk  petanda tumor golongan antigen jaringan antara lain :1.      Ca 1252.      Ca 72-43.      Ca 19-94.      Ca 54/615.      Ca 15-36.      Asam sialat yang terkait lipid7.      Sialyl – Tn8.      Tumor assosiated Tripsin Inhibitor9.      Follikel Regulatory Protein (FRP)10.  Macrophage Colony Stimulating Factor (M-CSF)11.  OVX112.  Antigen polipeptida jaringan13.  NB/70K14.  Antigen serum yang terkait dengan kanker15.  Antigen serum ovarium16.  Immunosupresive assidic Protein (IAP)17. Interleukiin 2 reseptor18.  TA-419.  Antigen Karsinoma sel skuamosa (SCC) 20.  Kapsid papiloma virus CA-125Merupakan suatu glikoprotein permukaan sel dengan berat molekul tinggi mencapai lebih dari  1000 kDa. Tidak seperti halnya banyak petanda tumor glikoprotein permukaan sel lainnya, CA-125 tidak dianggap sebagai suatu musin karena kandungan karbohidratnya (24%) kurang dari 50%. Fungsi fisiologisnya normal  tidak diketahui, tetapi dilepaskan dari permukaan sel dan telah terdeteksi pada cairan amniotik, mukus servikal, lumina kelenjar endometrium, cairan semen, sekresi bronkhial, cairan peritoneum, dan serum dari individu2 yang kelihatannya sehat. Pada orang dewasa, CA-125 terdapat pada permukaan sel-sel yang merupakan lini tuba fallopii, endometrium, endoserviks, peritoneum, pleura, perikardium, dan bronkhus. Pada Ovarium normal Ca 125 ini hanya sedikit dijumpai., meskipun antigen tersebut kadang-kadang ditemukan dalam ovarium pada kista inklusi, ekskresi papilari jinak, ketika epitelium mengalami metaplasia tubal.CA-125  merupakan suatu petanda cukup spesifik untuk kanker ovarium. Peningkatan kadar serum telah ditemukan pada kebanyakan pasien penderita metastatik endometrium, tuba fallopii, endoservik, dan karsinoma pankretik, dan juga pada beberapa pasien penderita kanker payudara, paru dan kolon. Insiden yang paling tinggi dari peningkatan CA-125 pada kanker non ginekologi terlihat pada kanker pankreas (60%). Secara konsekuen, CA-125 tidak bermanfaat untuk menentukan asal dari adenokarsinoma dimana tempat primernya tidak terlihat. CA-72-4 (TAG –72)Yang mengenali antigen ini adalah antibodi monoklonal B72.3. Glikoprotein yang terkait dengan tumor (TAG-72) ditemukan pada kebanyakan kanker ovarium. TAG-72 telah diperlihatkan diekspresikan oleh kebanyakan tipe adenokarsinoma, terutama tipe2 dari traktus gastrointestinal. Antigen tersebut telah diteliti secara luas sebagai suatu petanda untuk kanker ovarium, terutama sebagai alat untuk membedakan kelainan jinak dari kelainan ganas. Endometrium sekretori normal dan lesi2 endometriotik juga telah diperlihatkan mengekspresikan jumlah TAG-72 yang signifikan.  CA-19-9CA-19-9 meningkat dalam serum dari 29% sampai 48% wanita2 penderita kanker ovarium. Beberapa dari wanita ini tidak mengalami peningkatan CA-125.  CA-19-9 dapat berguna dalam memantau pasien-pasien penderita tumor musinus. Suatu proporsi kecil pasien-pasien penderita kanker serviks atau endometrium juga telah meningkat kadar CA-19-9nya.  Aplikasi Petanda Tumor pada Keganasan Ginekologi.   Penggunaan macam macam petanda tumor, dapat diklasifikasikan sebagi berikut :1.      Deteksi dini atau ujisaring untuk kanker primer2.   Diagnosis3.      Menentukan tingkat keganasan (tumor staging) sebelum dilakukan terapi4.      Deteksi adanya kekambuhan dan metastase5.      Evaluasi prognosis

  1. Pemantauan respon terhadap terapi

Deteksi Dini Kanker Paru

imagesyKanker merupakan salah satu penyebab kematian utama diseluruh dunia. Kanker paru merupakan salah satu penyebab terbesar kematian akibat kanker setiap tahunnya.

Terdapat lima faktor risiko perilaku dan pola makan yang menimbulkan kanker, yaitu:

1. indeks masa tubuh yang tinggi

2. kurang konsumsi buah dan sayur

3. kurang aktivitas fisik

4. perokok

5. konsumsi alkohol berlebihan

Merokok merupakan faktor risiko utama kanker yang menyebabkan terjadinya lebih dari 20% kematian akibat kanker di dunia. Lebih dari 30% penyakit kanker dapat dicegah dengan cara merubah faktor risiko perilaku dan pola makan penyebab penyakit kanker. KAnker yang diketahui sejak dini kemungkinan mendapatkan penanganan lebih baik.

Definisi kanker paru

Kanker paru dalam arti luas adalah semua penyakit keganasan di paru mencakup keganasan yang berasal dari paru (kanker paru primer) maupun keganasan dari luar paru (metastasis kanker pada paru). Kanker paru primer merupakan tumor ganas yang berasal dari epitel bronkus atau karsinoma bronkus. Kanker paru sekunder atau metastasis kanker pada paru merupakan pertumbuhan sel kanker yang berasal dari paru atau suatu organ di luar paru yang menyebar ke dalam paru.

Gejala dan keluhan

Kanker paru tidak memiliki keluhan spesifik, seperti batuk darah, batuk kronik, berat badan menurun dan gejala lain yang juga dapat dijumpai pada jenis penyakit paru lain. Penemuan dini berdasar keluhan jarang terjadi. Di Indonesia, kanker paru terdiagnosis pada staging lanjut. Dengan meningkatnya pengetahuan masyarakat dan peralatan diagnostik pendeteksian dini seharusnya dapat dilakukan

Deteksi dini Kanker paru

Sasaran deteksi dini terutama pada golongan risiko tinggi (GRT), yaitu:

– laki-laki, usia lebih dari 40 tahun, perokok

– paparan industri tertentu